Senin, 30 Januari 2017

PENDIDIKAN KARAKTER / NILAI DAN SISTEM PENDIDIKAN INTEGRAL DI PONDOK PESANTREN DALAM USAHA MENGGAGAS PERADABAN MUSLIM


1. Pendahuluan

                Manusia adalah pelaku peradaban, sedangkan tanah adalah medan penyemaian dari aktivitas-aktivitas manusia, sementara waktu adalah alokasi kerja dalam proses membangun peradaban tadi, jika manusia merupakan unsur yang paling fundamental dalam sebuah peradaban, maka langkah apapun bagi terwujudnya sebuah peradaban tidak akan pernah terealisir jika mengabaikan pendidikan dan pembinaan manusia.Jadi, tugas utama pesantren dalam membangun peradaban adalah melahirkan manusia yang berkualitas pada aspek pemikiran (tilawah/kognitif), akhlaq (Tazkiyah/afektif) dan amal (ta’lim/psikomotorik), pembinaan pada ketiga dimensi di atas sejalan dengan teori perubahan sosial dan filsafat sejarah bahwa sebuah perubahan bermula dari ide, keyakinan dan berakhir dengan tindakan.

2. Pembahasan

a. Pengertian Pendidikan Nilai / Karakter

Banyak pakar telah mengembangkan berbagai pendekatan pendidikan karakter /  nilai, diantara berbagai pendekatan yang ada dan banyak digunakan, dapat diringkas menjadi lima macam pendekatan, yaitu : pendekatan penanaman nilai, pendekatan perkembangan kognitif, pendekatan analisis nilai, pendekatan klarifikasi nilai, dan pendekatan pembelajaran berbuat.
 Dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti lebih tepat digunakan Pendekatan Campuran, dengan penekanan pada Pendekatan Penanaman Nilai, karena esensi dari tujuan antara Pendidikan Budi Pekerti dan Pendekatan Penanaman Nilai adalah sama, yakni menanamkan nilai-nilai sosial tertentu dalam diri santri di pondok pesantren.Berbagai metoda pendidikan dan pengajaran yang digunakan dalam berbagai pendekatan lain dapat digunakan juga dalam proses pendidikan dan pengajaran pendidikan nilai atau budi pekerti. Hal ini penting, untuk memberi variasi kepada proses pendidikan dan pengajarannya, sehingga lebih menarik dan tidak membosankan.



Pendidikan budi pekerti memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan nilai dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.

Nilai-nilai / karakter yang terkandung di dalam pendidikan pesantren seperti Pondok Pesantren Darussalam Gontor adalah fikih sufistik yang lebih mengedepankan nilai / character keagamaan demi membangun peradaban dunia dan akhirat kelak. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi ciri khas nilai dalam pendidikan pesantren yang harus diserap oleh warga pesantren dan masyarakat sekitarnya. Karakter / Nilai tersebut kemudian membentuk pandangan hidup santri, seperti pada nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat disimpulkan dalam Panca Jiwa di pesantren, Darussalam Gontor selain itu pula sebagai agen pewaris budaya (agen of of conservative), pesantren berperan sebagai pewaris budaya melalui pendidikan sistem nilai dan kepercayaan, pengetahuan, norma-norma, serta dat kebiasaan dan berbagai perilaku tradisional yang telah membudaya diwariskan pada suatu generasi ke genaerasi berikutnya.Oleh karena pengaruh abad industri ini tidak saja menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga moral dan agama, Islam dengan paradigma yang dimilikinya , yaitu ra ahmatan lil alamin, bertanggung jawab atas terjadi benturan-benturan peradaban atau implikasi negatif dari perkembangan dunia, termasuk juga didalamnya adalah masyarakat pesantren yang menjadi bagian integral dari masyarakat secara kesuluruhan tidak bisa menutup mata dan menjauh dari realitas ini. Pertanyaannya adalah bagimana bentuk akomodasi pesantren dalam merespon pesantrenitas sebagaimana fenomenanya telah diuraikan di atas, kiranya nilai- nilai apa sajakah yang dianggap akomodatif dan mampu menjawab tantangan zaman. Dengan demikian Pondok Pesantren  Darussalam Gontor memiliki nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat disimpulkan dalam Panca Jiwa.

b. Lima Nilai / karakter  di dalam Panca Jiwa Pondok Pesantren Darsussalam Gontor

             1. Jiwa Keikhlasan, Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik.Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan Pondok Pesantren Darussalam Gontor yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun berada.

           2. Jiwa kesederhanaan , Kehidupan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor diliputi oleh suasana kesederhanaan, sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat, justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup.Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan .

         3. Jiwa Berdikari,   Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, Pondok Pesantren Darussalam Gontor itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain .

   4. Jiwa Ukhuwwah Diniyyah, Kehidupan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah diniyyah, tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka, ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat.Kehidupan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor yang berjalan selama 24 jam harus diliputi suasana persaudaraan akrab, sehingga segala kesenangan dirasakan bersama dengan jalinan persamaan agama. Jiwa ukhuwah ini tidak hanya berlaku ketika seorang santri tersebut masih menimba ilmu di pondok, akan tetapi jiwa ukhuwah ini ditujukan kepada persatuan ummat ketika sudah menjadi alumni dari pondok. Dari jiwa ukhuwah ini K.H. Ahmad Sahal berwasiat kepada siswa kelas enam yang telah menyelesaikan pelajaran mereka di kelas VI KMI Pondok Pesantren Gontor: Jadilah anak-anakku perekat ummat; dan fahamilah benar-benar arti perekat ummat

        5. Jiwa Bebas, Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip.Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja.

                 Peranan panca jiwa di Pondok Pesantren Darussalam Gontor yang menjiwai setiap detik kehidupan di pesantren, salah satu peranan penting panca jiwa adalah sebagai falsafat hidup santrinya. Dan dalam proses pendidikannya, K.H. Imam Zarkasyi dalam sambutannya pada acara resepsi kesyukuran setengah Abad dan peresmian masjid Jami’ Pondok Pesantren Gontor menyatakan beberapa semboyan pendidikan yang terilhami dari panca jiwa pondok pesantren. Semboyan pendidikan itu adalah: “Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas”. (Imam Zarkasyi, 1991)

          Disamping semboyan yang sudah disebut diatas masih banyak lagi semboyan-semboyan pendidikan untuk para santri sebagai pencerminan dari Panca Jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor tadi. Hal tersebut diungkapkan oleh K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi M.A dalam pidatonya pada acara puncak kesyukuran delapan windu 1991. Beliau mengungkapkan: “Dari sinilah keluar filsafat hidup, pencerminan dari Panca Jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor itu, sehingga banyak semboyan-semboyan pendidikan untuk para santri seperti:, “Hidupilah pondok, jangan menggantungkan hidup dari pondok" , “Berjasalah dan jangan minta jasa”“Jadilah Santri yang: Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup takut hidup mati saja” Hidup sekali, hiduplah yang berarti, Jadilah Santri yang pandai menciptakan pekerjaan, bukan yang mencari pekerjaan”, “Berkorbanlah dalam berjuang, dengan Bondo, bahu, piker, lek perlu saknyawane pisan” (Abullah Syukri Zarkasyi, 1991
               Dapat disimpulkan dari ungkapan diatas bahwa kelima panca jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor yang selalu menjiwai kehidupan dipondok mempunyai peran yang sangat penting dalam jalan pendidikan di pondok pesantren. Karena Pondok Pesantren lebih mementingkan pendidikan daripada pengajarannya. Adapun arah dan tujuan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor adalah: Kemasyarakatan, Hidup sederhana, Tidak berpartai dan Tujuan pokoknya “ibadah talabul ‘ilmi”, bukan untuk menjadi pegawai. (Abullah Syukri Zarkasyi, 1991)

        Arah dan tujuan tersebut adalah wujud kongkrit dari panca jiwa Pondok Pesantren yang selalu menjiwai kehidupan di Pondok Pesantren Gontor dan dalam hal ini lebih menekankan pada masalah jalannya pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Gontor.

        Dengan tekad untuk menjadi sebuah lembaga pendidikan berkualitas, Pondok Darussalam Gontor bercermin pada lembaga-lembaga pendidikan internasional terkemuka. Empat lembaga pendidikan yang menjadi sintesa Pondok Darussalam Gontor yang bersamaan dengan nilai-nilai di dalam Panca Jiwa adalah:
  1. Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, yang memiliki wakaf yang sangat luas sehingga mampu mengutus para ulama ke seluruh penjuru dunia, dan memberikan beasiswa bagi ribuan pelajar dari berbagai belahan dunia untuk belajar di Universitas tersebut.
  2. Aligarh, yang terletak di India, yang memiliki perhatian sangat besar terhadap perbaikan sistem pendidikan dan pengajaran
  3. Syanggit, di Mauritania, yang dihiasi kedermawanan dan keihlasan para pengasuhnya.
  4. Santiniketan, di India, dengan segenap kesederhanaan, ketenangan dan kedamaian
Selain Panca Jiwa Pondok Darussalam Gontor juga memiliki Motto yang agak berbeda dari pesantren lain pada umumnya dalam menekankan pada pembentukan pribadi mukmin yang sholeh sehingga pendidikan nilai yang ada dapat menggagas peradaban muslim di Indonesia  yaitu :

1. Berbudi tinggi, Berbudi tinggi merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok Pesantren Darussalam Gontor ini kepada seluruh santrinya dalam semua tingkatan; dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Realisasi penanaman motto ini dilakukan melalui seluruh unsur pendidikan yang ada.
2. Berbadan Sehat, Tubuh yang sehat adalah sisi lain yang dianggap penting dalam pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor ini. Dengan tubuh yang sehat para santri akan dapat melaksanakan tugas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan dilakukan melalui berbagai kegiatan olahraga, dan bahkan ada olahraga rutin yang wajib diikuti oleh seluruh santri sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

3. Berpengetahuan Luas, Para santri di Pondok Pesantren Darussalam Gontor ini dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik untuk dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka, santri tidak hanya diajari pengetahuan, lebih dari itu mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk membuka gudang pengetahuan. Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak terbatas, tetapi tidak boleh terlepas dari berbudi tinggi, sehingga seseorang itu tahu untuk apa ia belajar serta tahu prinsip untuk apa ia manambah ilmu.
4.      Berpikiran Bebas, Arti bebas disini dititik beratkan pada perbuatan berpikir dan berbuat, bebas menentukan masa depannya. Dengan prinsip jiwa bebas ini para santri harus bebas dalam memilih dan menentukan jalan hidupnya di masyarakat kelak, dengan jiwa besar dan optimis dalam menghadapi kesulitan.Tetapi sangat di sayangkan apabila jiwa bebas ini diartikan dengan arti-arti yang negatif. Seperti kebebasan yang keterlaluan (liberal), sehingga kehilangan arah dan tujuah serta prinsip. Sehingga arti bebas disini harus dikembalikan kepada aslinya, yaitu garis-garis disiplin yang positif dengan penuh tanggungjawab, baik didalam kehidupan pondok dan masyarakat. Dan jiwa-jiwa pondok yang terangkum dalam panca jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor harus dihidupkan dan dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas.


III. Penutup
Islam sebagai agama dan pesantren sebagai media dakwah Islam yang tersebar ke seluruh penjuru Nusantara tampil secara kreatif berdialog dengan masyarakat setempat (lokal), berada dalam posisi yang menerima kebudayaan lokal, sekaligus memodifikasinya menjadi budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat setempat dan masih berada di dalam jalur Islam dalam membangun peradaban Islam.

Dalam pandangan hidup santri, karakter / nilai-nilai yang ada di pondok  pesantren Darussalam Gontor adalah pijakan yang jelas untuk mempertahankan tradisi kepesantrenan yang baik. Jadi dengan demikian nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor  yang terus dipertahankan dan dikembangkan serta diamalkan adalah berdimensi pada agama dengan tetap berada pada tataran tradisi pesantren dan selalu melihat pada perubahan-perubahan yang terjadi terhadap sistem pendidikan pesantren. nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor  itulah yang akhirnya membentuk pandangan hidup santri terhadap pesantrennya.Dengan demikian, maka sistem pesantren di dasarkan atas dialog yang terus- menerus antara kepercayaan terhadap ajaran dasar ajaran agama yang di yakini memiliki nilai kebenaran muthlak dan realitas sosial yang memiliki nilai kebenaran relative. nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor  inilah yang kelak membangun perdaban muslim.

                Dari pembahasan diatas, penulis mengambil beberapa point yang sekiranya bisa menggambarkan secara ringkas permasalahan yang telah diulas sebagai berikut:
  1. Hal yang paling penting dalam suatu Pondok Pesantren Darussalam Gontor bukanlah pelajaran atau kurikulumnya, melainkan jiwa-jiwa yang mendasari kehidupan pesantren tersebut.


  2. Panca jiwa Pondok Pesantren Darussalam Gontor adalah: Keikhlasan, Kesederhanaan, Kesanggupan menolong diri sendiri (zelp help) atau berdikari (berdiri diatas kaki sendiri), ukhuwah islamiyah, dan jiwa bebas merupakan filsafat hidup.

  3. Dari jiwa-jiwa pondok yang lima muncul semboyan pendidikan yang menjadi filsafat pendidikan di pondok pesantren seperti motto Pondok Pesantren Darussalam Gontor.


  4. Peranan Panca jiwa sebagai filsafat hidup dalam pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Darussalam Gontor  adalah membuat kongkrit tujuan pendidikan dan pengajaran

                Pendidikan adalah proyek besar bersama, investasi untuk membangun masa depan, harus ditangani dengan sungguh-sungguh, ketekunan dan perhatian penuh, serta melibatkan semua pihak secara massiv dengan menekan biaya serendah mungkin agar terjangkau seluruh lapisan masyarakat.

              Tidak bisa hanya menjadi usaha sampingan, apalagi dicemari dengan interest-interest pragmatis . Pendidikan bertujuan membentuk kepribadian anak didik yang unggul ; pola fikir, sikap dan tingkah laku, serta menyempurnakan akhlak mulia. Sebagai proyek jangka panjang, target pendidikan tidak bisa dibatasi dengan kurun waktu tertentu, terus berkesinambungan sepanjang kehidupan itu sendiri, karena itu sharing pengalaman, dan kolaborasi dalam kebaikan, merupakan suatu keniscayaan (QS. 9 : 71 dan 5 : 2).

           Demikianlah penelitian saya dalam menulis karya ilmiah ini dan  sedikit pengalaman saya selama jadi santri dan ustadz selama  8 tahun di Pondok Pesantren  Darussalam Gontor ditambah pengalaman di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember  dan Pondok Madrasatul Qur’an Tubeireng Jombang selama satu tahun dan pesantren Husnayain Jakarta selama 4 tahun, semoga berkah dan manfaat selalu dari hasil didikan, bimbingan dan pengalaman selama ini.

Tentunya dalam mendidik generasi muda Islam, kami menyadari masih sangat banyak hal yang mesti dibenahi dan ditingkatkan, kewajiban kita adalah berusaha untuk melakukan sesuatu yang terbaik (QS. 67 : 2), tanpa merasa diri sebagai yang lebih baik (QS. 53 : 32). Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, dalam perjuangan menggapai ridha-Nya dalam pengembangan peradaban Islam melalui pendidikan nilai dan Sistem Integral di Pondok Pesantren. Amin.


* Karya tulis ini dibuat oleh M . Ihsan  Dacholfany M.Ed

DAFTAR  PUSTAKA

Abdullah Syukri Zarkasyi, Sambutan Pimpinan Pondok Pesantren dalam Acara Puncak Kesyukuran Delapan Windu, dokumentasi peringatan delapan windu, (Gontor: 1991)


Abuddin Nata,  Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (seri kajian Filsafat Pendidikan Islam), (PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Cet. I, Juli 2000)



Agus Aris Munandar. Peranan Ulama Dalam Istana Kerajaan- Kerajaan Islam di Pulau Jawa,( Dalam Analisa Kebudayaan No. 3 Tahun IV, Depdikbud, 1983. 

Diktat pekan perkenalan, (Gontor: 2007)

Dokumentasi peringatan delapan windu, (Gontor: 1991)

Fachry Ali. Ulama dan Politik, dalam “Pergulatan Dunia  Pesantren Membangun dari Bawah, Jakarta: Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, P3M, 1985.

Harun Nasution. Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1992.

Imam Zarkasyi &  Abdullah Sahal, Wasiat, Pesan, Nasehat dan Harapan Pendiri Pondok Pesantren, (Gontor: 1990)

Imam Zarkasyi, Sambutan pimpinan dalam acara resepsi kesyukuran setengah abad dan peresmian masjid jami’ Pondok Pesantren Gontor, Kenang-kenangan 1926; Peringatan Delapan Windu, 1990, (Gontor: 1990)  

Manfrred Oepen DKK, Dinamika Pesantren, P3M, Jakarta, 1988,

Mansur, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004

Martin Van Bruinessen. Pengantar: Abdurrahman Wahid. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan. 1995. 

Mohammad Daud Ali dan Habibah Daud. Lembaga- Lembaga Islam di  Indonesia,(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995.

Said Aqil Siroj. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi. Bandung: Mizan, 2006.
Surajiyo. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia: suatu Penganar.Jakarta: Pt. Bumi Aksara. 2009.

Suwendi.  Rekonstruksi Sistem Pendidikan Pesantren, dalam ‘Pesan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar