Senin, 20 Februari 2017

GURU BIJAK, MEMAHAMI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DAN BELAJAR ANAK





¨ Dr. M. Ihsan Dacholfany , M.Ed
¨ Wakil Ketua STAI Bani  Saleh 
¨ Dosen Univ.Muhammadiyah Metro dan STAIN Jurai Siwo
¨ 0812-13022-488
¨ mihsandacholfany@yahoo.com

ABSTRAK
Pernah ada perdebatan sengit antara orang tua, guru TK dan Guru SD, tentang Persyarakatan kompetensi anak yang bisa tulis baca sebelum masuk SD.  Beberapa sekolah SD hanya menerima calon siswa yang bisa tulis baca, sehingga para orang tua siswa mengajukan protes pada guru TK dimana anaknya belajar, kenapa tidak mengajari anaknya tulis baca. Hal ini sebenarnya tidak harus terjadi jika semua pihak memahami Psykologi Perkembangan Anak.  Pada usia emas anak, otaknya masih berkembang cepat. Simpul syaraf di otaknya berkembang terus dengan cepat, menuju kondisi maksimal pada usia 9-10 tahun. Guru dan orang tua yang bijak, akan berusaha mengembangkan semua jenis kecerdasan anak dengan merangsang seluruh panca indra dan semua jenis kecerdasan anak, agar simpul syarafnya berkembang maksimal. Jika pada usia anak tersebut sudah dipaksa untuk belajar tulis dan baca, anak dikuatirkan akan merasa terbebani, dan proses perkembangan simpul syaraf akan terganggu. Jadi bukan tulis bacanya yang menjadi masalah, tetapi rasa TERBEBANI-nya yang menjadi masalah, karena perkembangan simpul syaraf akan terganggu. Hal inilah yang menjadi topik bahasan utama dalam artikel ini, agar guru dan para orang tua memahami tugas dan fungsi perkembangan anak, sesuai dengan usianya. Jika tidak, maka akan menghasilkan proses pendidikan yang salah, yang membunuh fungsi perkembangan anak.


A. MENGAPA PERLU MEMAHAMI PERKEMBANGAN ANAK ?

Dalam upaya mendidik anak atau membimbing anak kita sebagai orang tua, pendidik atau siapa saja, sangat perlu memahami perkembangan anak dengan baik, sehingga anak bisa mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Pemahaman tentang perkembangan anak itu sangat penting dengan alasan sebagai berikut :
1.      Masa anak merupakan periode perkembangan yang sangat cepat dalam banyak aspek kehidupan.
2.      Pengalaman anak dimasa kecil sangat mempengaruhi perkembangan anak pada masa berikutnya.
3.      Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu orang tua atau pendidik untuk mendorong anak mengembangkan dirinya secara optimal dan memfasilitasi anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
4.      Pemahaman tentang perkembangan anak dapat membantu orang tua atau pendidik untuk mengantisipasi hal-hal yang kurang baik yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Contoh pengaruh jelek dari lingkungan.
.
B. PENGERTIAN  BEBERAPA ISTILAH
Untuk mempermudah pemahaman materi bahasan ini, kita perlu perlu memahami pengertian dari istilah-istilah berikut dalam konteks perkembangan anak, seperti : fsikologi, perkembangan anak, belajar, sistematik, progresif, berkesinambungan dan lain-lain.

§  PSIKOLOGI   berasa dari kata  Bahasa Yunani “Psychology”, yang berasal dari kata Psico (Jiwa atau roh) dan Logos (Ilmu). Jadi Psikologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang jiwa. [[1]] PERKEMBANGAN adalah “Perubahan yang progresif dan kontinyu dalam diri individu dari mulai lahir sampai meninggal” atau “Perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik yang menyangkut fisik (jasmani) atau psikis (rohaniah). [[2]]
§  BELAJAR adalah “Modification of behaviour through experience and training” atau “perubahan tingkahlaku karena pengalaman dan latihan” [[3]]
§  SISTIMATIK,  berarti perubahan dalam perkembangan anak itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian fisik dan psikis, dan merupakan kesatuan yang harmonis. Seperti kemampuan jalan bagi anak terjadi seiring dengan semakin kuatnya otot. Perkembangan jiwa anak sesuai dengan perkembangan fisik anak.
§  PROGRESIF, berarti perubahan bersifat maju, meningkat dan mendalam baik secara fisik atau psikis. Pengetahuan anak berkembang dari mulai yang sederhana samapai pengetahuan yang lebih rumit. Perubahan tinggi badan anak, mulai dari pendek hingga tinggi, dan lain sebagainya.
§  BERKESINABUNGAN, berarti perubahan itu terjadi secara berurutan terus, tidak loncat-loncat. Contoh untuk bisa berjalan, anak belajar duduk, merangkak, berdiri dan berjalan, tidak langsung berdiri setelah dilahirkan.

C. PERKEMBANGAN ANAK
C.1. Prinsip-prinsip Perkembangan
  • Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti
  • Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi
  • Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu
  • Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan
  • Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas
  • Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan perkembangan yang baik.

C.2. Fase-Fase Perkembangan

TAHAPAN PERKEMBANGAN
JENIS-JENIS PERKEMBANGAN

Usia 4 -16 Minggu

Bayi dapat menguasai 12 macam otot acula motornya

Usia 16 -28 minggu
Bayi dapat menguasai otot-otot yang menyanggah kepala dan menggerakkan tangannya. Ia mulai dapat meraih benda-benda.
Usia 28 – 40 minggu
Ia dapat menguasai badan dan tangannya. Ia mulai dapat duduk, menangkap, dan mempermainkan benda-benda.
Tahun Ke dua
Anak sudah pandai berjalan dan berlari, dapat menggunakan kata-kata dan mengenali identitas dirinya (seperti namanya).
Tahun ke tiga
Anak dapat berbicara dalam kalimat dan menggunakan kata-kata sebagai alat berpikir.
Tahun Keempat
Anak mulai banyak bertanya dan dapat berdiri sendiri.
Tahun kelima
Anak telah matang dalam menguasai gerak-gerik motoris. Ia dapat melompat-lompat, bercerita agak lebih panjang, lebih suka bermain dan berkawan.



Tahapan Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
PERIODE
USIA
DESKRIPSI  PERKEMBANGAN
Sensorimotor
0-2 minggu
Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang lain atau objeck (benda). Skema-skemanya mulai terbentuk refleks-refleks sederhana, seperti : menggenggam atau mengisap .
Praoprasioanl
2-6 tahun
Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk mempresentasi dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol tersebut seperti : kata-kata dan bilangan yang dapat menggantikan objek , peristiwa dan kegiatan (tingkah laku yang tampak).
Oprasi Kongkrit
6-11 Tahun
Anak sudah dapat membentuk oprasi-oprasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah, mengubah atau mengurangi. Oprasi ini memungkinkannya untuk dapat memecahkan masalah secara logis.
Oprasi Formal
11 Tahun
Periode ini merupakan oprasi mental tingkat tinggi. Di sini anak sudah dapat berhubungan dengan dengan peristiwa-peristiwa hipotesis atau abstrak, tidak hanya dengan objek kongkrit. Anak sudah mulai bisa memecahkan masalah analisa dan pengujian semua alternatif yang ada.


D. BELAJAR ANAK
Agar kita memahami cara belajar anak dengan baik, kita harus memahami karateristik anak usia dini [[4]], yaitu :

KARATERISTIK ANAK

SIFAT DAN  TINGKAH LAKU ANAK

APA YG HARUS DILAKUKAN OLEH PENDIDIK, AGAR ANAK BELAJAR DENGAN BAIK
1.      Anak bersifat unik
Setiap anak punya sifat dan kemampuan yang berbeda dari anak lainnya.
Guru dan pendidik harus menyiapkan berbagai cara, methode dan media untuk belajar anak.
2.      Anak bersifat egosentris
Anak sering mementingkan diri sendiri, ia tidak jarang berebut sesuatu dengan saudaranya, tanpa mau mengantri.
Orang tua dan guru, harus sabar, penuh kasih sayang dan menjelaskan kenapa harus mau berbagi, atau kenapa hal tertentu tidak bisa dicapai.
3.      Anak bersifat aktif dan energik
Anak senang sekali melakukan aktivitas selama terjaga dari tidurnya, seolah tidak pernah cape.
Sebaiknya guru dan orang tua  sabar membimbing anak yang super aktif tersebut, jangan dimarahi atau dibunuh sifat aktifnya tersebut.
KARATERISTIK ANAK

SIFAT DAN  TINGKAH LAKU ANAK

APA YG HARUS DILAKUKAN OLEH PENDIDIK, AGAR ANAK BELAJAR DENGAN BAIK
4.      Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal
Karena rasa ingin tahunya, anak cendrung memperhatikan, membicarakan dan mempertanyakan hal-hal baru.

Orang tua dan guru sebaiknya menjadi teman berdiskusi bagi anak selama proses mencari tahu hal baru tersebut.

5.      Anak bersifat ekploratif dan berjiwa petualang
Umumnya anak lebih suka menjelajah dan mencoba hal-hal baru.
Kita harus membimbing dan menjelaskan pada anak pada saat ia mencoba hal-hal baru, agar terhindar dari hal yang membahayakan dirinya.
6.      Anak mengekpresikan perilaku secara spontan
Anak akan marah dan sedih jika ada yang membuat ia jengkel. Ia akan mengatakan sesuatu secara sepontan apa yang ada dipikirannya.
Jangan dimarahi dan ditakut-takuti jika ia berkata apa adanya. Apalagi jika ia mengutarakan celoteh yang sebelumnya tidak kita pikirkan.
7.      Anak senang dan kaya akan pantasi serta hayalan
Ia senang mendengar cerita-cerita yang disampaikan orang dewasa, atau ia sendiri suka berimajinasi.
Ini bisa dijadikan media oleh orang tua untuk bercerita tentang sesuatu yang sifatnya mendidik. Contoh dongen tentang pahlawan atau kisah rosul atau kisah anak durhaka dan lain-lain.
8.      Anak masih mudah frustasi
Anak lazimnya mudah frustasi dan kecewa jika tidak mencapai sesuatu yang diinginkannya.
Guru dan orang tua dengan sabar memberikan motivasi pada anak untuk mencapai hal yang diinginkannya, kecuali jika hal tersebut merugakan atau membahayakan dirinya.
9.      Anak masih kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu
Anak  lazimnya belum memiliki rasa pertimbangan yang matang, termasuk hal yang membahayakan dirinya.
Anak jangan dimarahi atau takuti, sehingga rasa ingin tahunya hilang. Sebaiknya dibimbing dengan sabar, sehingga lambat laun anak memahami resiko dari suatu tindakan tersebut.
10.  Anak memiliki daya perhatian yang pendek
Ia  jarang memperhatikan suatu benda dalam jangka waktu yang lama, sebentar ia akan bosan, kecuali pada benda atau sesuatu yang ia senangi.
Jangan terlalu berharap anak akan lama memperhatikan sesuatu benda, apa lagi leawat menonton, yang lebih baik ajak anak terlibat secara praktek.
11.  Anak bergairah untuk belajar dan banyak belajar dari pengalaman
Anak senang melakukan aktivitas yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkahlaku pada dirinya. Ia senang senang mencari tahu tentang berbagai hal, memprkatekan berbagai kemampuan dan keterampilan baru. Ia lebih senang belajar dari pengalaman melalui interaksi dengan orang lain dan benda daripada dari simbol dan kata-kata.
Beri kesempatan anak untuk berinteraksi dengan alam dan lingkungannya sebanyak mungkin. Ia akan lebih senang belajar dari alam, lingkungan dan hubungan langsung dengan teman-temannya daripada belajar dari kata-kata guru dan orang tuanya.
KARATERISTIK ANAK

SIFAT DAN  TINGKAH LAKU ANAK

APA YG HARUS DILAKUKAN OLEH PENDIDIK, AGAR ANAK BELAJAR DENGAN BAIK
12.  Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman


Anak mulai berminat berkomunikasi dengan teman lainnya. Ia mulai menunjukan kemampuan untuk bekerja sama dan berhubungan dengan teman-temannya. Ia memiliki pembendaharaan yang cukup untuk berkomunikasi dengan orang lainnya.
Guru atau pendidik harus merancang dan menyusun  kegiatan belajar yang mengkondisikan anak untuk belajar bersama, saling membantu, tongo-menolong sehingga anak belajar untuk memupuk sikap kebersamaan.

Teori belajar bagi anak, berakar dari asumsi bahwa tingkah laku anak diperoleh melalui pengkondisian dan prinsip-prinsip belajar. Di sini dapat dibedakan antara tingkah laku yang dapat dipelajari dan tingkah laku yang temporer atau tidak dapat diamati atau hanya merupakan proses biologis. B.F Skiner membedakan  belajar anatara ’Respondent behaviour” dan ”Operant Behaviour” :

Respondent Behaviour, merupakan respon yang didasarkan kepada refleks yang dikontrol oleh stimulus. Respons ini terjadi ketika ada stimulus, seperti bersin, marah dan sedih.

”Operant Behaviour”, adalah tingkahlaku yang dikontrol dengan dampak dan konsekuensinya. Contoh : tingkah laku yang menyenangkan cenderung akan diulang kembali, dan sebaliknyan tingkahlaku yang tidak menyenangkan cenderung ditinggalkan dan tidak diulangi.

Ada empat cara pengkondisian dalam kegiatan belajar :
1.      Habituasi [[5]]
2.      Respondent Conditional dari Paplov (1927)[[6]]
3.      Operant Conditional  dari Skinner (1938)[[7]]
4.      Discriminating Learning dari Maslow (2954) dan Regers (1974), dan Combs (1974)[[8]]


Bandura meyakini bahwa belajar melalui proses pengamatan atau modeling melibatkan empat proses :
1.      Attentional, proses dimana anak mulai tertarik pada tingkah laku si model.
2.      Retention, proses dimana anak mulai memasukan informasi tentang model (penampilan fisik, mental dan tingkahlaku model) ke dalam memori atau ingatannya.
3.      Production, proses dimana anak mulai mengidentifikasi dan mempraktekan tingkahlaku si model.
4.      Motivation, proses pemilihan tingkah lau yang diimitasi oleh anak.

Dalam upaya mengembangkan tingkah laku anak yang mulia, dalam proses belajar anak, ada be berapa hal yang perlu diperhatikan  (Imam Al Ghazali, dalam Psikologi Perkembangan Anak, Syamsu Yusuf):
1.      Menjauhkan anak dari pergaulan yang tidak baik
2.      Membiasakan anak untuk berlaku sopan
3.      Memberikan pujian kepada anak yang melakukan amal saleh, misalkan bersembahyang dan menegur anak yang melakukan kezaliman atau prilaku yang tidak sopan.
4.      Membiasakan anak menggunakan pakaian putih (bagus), bersih dan rapi.
5.      Mencegah anak untuk tidur siang.
6.      Menganjurkan anak selalu berolahraga.
7.      Menanamkan sikap sederhana
8.      Mengizinkan bermain setelah belajar.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim,  Pemilihan dan Pengembaangan Sumber Belajar Untuk Anak Usia Dini,
 (Departemen Pendidikan Nasional, 2010)

Anonim, Modul Pelatihan Pengelola dan Tenaga Pendidik (Kelompok Bermain), (Jakarta : Depdiknas Dirjen PLS dan Pemuda Direktorat PAUD, 2002).

Arifin, Didit Faozul, Skripsi : Pemanfaatan Mainan dalam Pengembangan Sosialisasi di Kalangan Anak Usia Dini dalam Keluarga, FIP-PLS, UPI Bandung, 2003.

Cole, Michael,  The Development of Children,  (London : Oxford University Press, 2010)

Edward Sallis, Total Quality Management in Education, (London : Kogan Page Ltd,, 2002).

Goode, Caron B., Optimizing Your Child’s Talen, (Jakarta : 2005).

Oberlander, June R., Slow and Steady Get Me Ready,  (Jakarta : Primamedia Pustaka, 2005).

Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, (Jakarta : Rineka Cipta,, 2002).

Susyanti, Irma, Skripsi : Pemanfaatan Alat Permainan Edukatif (APE) dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini pada Kelompok Bermain Happy Kids (Bandung :  FIP-PLS, UPI Bandung, 2006).

Thonthowi,   Psikologi Pendidikan,  (Jakarta : Binakasara, 2009).

Warner, Penny, Play & Learn 160 aktivitas bermain dan Belajar bersama anak (usia 0-3 tahun),  Jakarta : Elex Media Komputindo, 2004).

Yusuf, S.,  Psikologi Perkembangan Anak  (Bandung : Alfa Beta,  2000).













[[1]] Syamsu Yusup,  Psikologi Perkembangan Anak, (Bandung : Alfa Beta,  2000, Hal 12).

[[2]]Syamsu Yusup,  Psikologi Perkembangan Anak, (Bandung : Alfa Beta,  2000, Hal 41).
 (Syamsu Yusup, dalam Psikologi Perkembangan, 2000).

[[3]]   Arthur T Jersild, Educational Psychologi , London : Oxford University Press, 1981,  hal 231).

[[4] ] Sumber : Buku ”Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar Untuk Anak Usia Dini”, Bahan Ajar Bidang PGTK UPI. (Bandung : Alfa Beta,  1995, Hal 32).

[[5]} Habituasi, adalah proses pembiasaan yang terus menerus. Jika anak sudah dibiasakan dari kecil melakukan sesuatu, maka kebiasaan itu akan terus dibawa anak hingga usia dewasa. Oleh karena itu menurut teori ini, anak sejak dini harus diperkenalkan dan dibiasakan melakukan sesuatu hal yang baik, agar perilakunya pada usia dewasa selalu baik.

[[6] ] Pavlop pada tahun 1927 mengembangkan sebuah teori belajar yang terkenal dengan Respondent Conditional. Teori ini menjelaskan bahwa sikap dan perilaku orang bisa berubah dengan cara merubah kondisi lingkungan. Contoh siswa yang tidak suka belajar bahasa inggris, bisa berbalik menjadi sangat suka belajar bahasa inggris, jika lingkungan dan cara belajar dirubah menjadi cara dan lingkungan yang menyenangkan.

[[7] ]  Skinner pada tahun 1938 menggagas sebuah teori belajar yang terkenal dengan teori belajar Operant Conditonal. Teori ini menjelaskan bahwa seorang siswa akantermotivasi untuk terus belajar lebih giat jika ia diberikan reward atau penghargaan. Orang tua yang bijak akan selalu memberikan penghargaan baik dengan sikap atau kata-kat, atau dalam bentuk hadiah, agar anaknya lebih giat untuk belajar.

[[8] ] Discriminating Learning Theory,  menjelaskan bahwa proses belajar yang cocok siswa itu berbeda-beda, sehingga cara mengajar guru juga harus berbeda-beda. Setiap anak punya potensi yang berbeda, guru wajib memberikan kesempatan pada anak untuk belajar dan mengembangkan bakat dan potensinya sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing anak. Cara yang mudah bagi guru, adalah menyediakan berbagai cara belajar, sehingga bisa mengakomodir cara belajar semua siswa. Contoh dalam belajar bahasa inggris, setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Guru yang bijak, akan menyediakan berbagai cara belajar bahawa inggris, agar semua anak mendapat kesempatan belajar yang cocok untuk dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar