Rabu, 22 Februari 2017

NIZAM : Jurnal Studi Keislaman , No. 0 2 J uli - Desember 201 3 1 PERAN KEPEMIMPINAN PERGURUAN TINGGI ISLAM DALAM PE MBAGUN AN PERADABAN ISLAM I

PERAN KEPEMIMPINAN PERGURUAN TINGGI ISLAM DALAM PEMBAGUNAN PERADABAN ISLAMI

M Ihsan Dachollfany

Abstract


Absttrak
Lembaga pendidikan tinggi membutuhkan pengelolaan baik. Hal ini perlu dilakukan agar
sistem pendidikan berlangsung secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan
institusionalnya maka Perguruan tinggi Islam harus dapat dikelola dengan baik dan
mampu menentukan kebijakan untuk memberikan dampak kemajuan dan
perkembangan kampus ke depan serta diharapkan dapat menyelesaikan berbagai
permasalahan dan tantangan sehingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai dan
maksimal, serta mampu memotivasi tim atau bawahan dalam menyakinkan orang lain
untuk melakukan rencana bersama dalam mengaktualisasikan apa yang diharapkan
berdasarkan visi, misi dan tujuan yang akan dicapai di dalam Tri darma Perguruan
tinggi Islam, tentunya semua itu tidak terlepas dari peran dan eksistensi pimpinan dan
manajemen perguruan tinggi Islam dalam mempertahankan yang telah baik dan
mengambil serta memperbaiki apa yang kurang sesuai dengan melakukan inovasi
kerjasama dengan lembaga lain dalam mengelola lingkungan lembaga pendidikan untuk
membangun peradaban Islam, baik dari dalam kampus maupun luar kampus bahkan
luar negeri sekalipun.

Nizham : Jurnal Studi Keislaman Pascasarjana IAIN Metro
ISSN Print : 2339-1235 ISSN Online: 2541-7061

Alamat Redaksi :
Jl. Ki Hajar Dewantara 15A Iringmulyo, Metro Timur, Kota Metro, Lampung Telpon: 0725-41507 Fax: 0725-47296
Kontak: 081273307316 (Dharma Setyawan, MA)
E-mail: pascasarjanaiainmetro@gmail.com

pendidikan-karakter-belajar-ala Pesantren Gontor

http://combobook.blogspot.co.id/2015/02/pendidikan-karakter-belajar-ala.html


Sinopsis : Pendidikan karakter dapat berjalan melalui kegiatan yang syarat dengan muatan akhlak mulia dan filsafat hidup, termasuk memberikan pemahaman tentang makna hidup. (KH .DR (Hc) Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, Pimpinan Pondok Pesantren Gontor). Buku ini menjelaskan dengan baik mengenai bagaimana penanaman nilai dan karakter keislaman yang ada pada Pondok Pesantren Gontor. Diawali dengan pemaparan sejarah dan profil Pondok Modern Gontor, penulis memaparkan profil tokoh kunci dalam proses pendidikan karakter yang melibatkan Kyai/Pimpinan, para guru/ustadz dan para santri.

Kepemimpinan kyai yang menjadi success factor dalam pendidikan karakter dijelaskan dengan baik secara teoritis maupun praktis. Termasuk bagaimana kepemimpinan kyai menghadapi pelbagai masalah dan hambatan dalam menerapkan pendidikan karakter diulas dengan cukup gamblang oleh penulis. Menurut Suwito Jemari salah satu pengasuh Pondok Gontor 9 Kalianda lampung, mengatakan bahwa Pondok Gontor yang telah memiliki sistem kaderisasi, walaupun Kyai Trimurti (pendiri Pesantren) sudah meninggal, nama besarnya tetap dikenal dan dikenang oleh masyarakat, meski kepemimpinan kyai telah mengalami pergantian generasi, tetapi tetap tidak melupakan kebijakan kepemimpinan Kyai Trimurti ketika masih hidup.

Akan tetapi, tidak ada salahnya jika ada perubahan kebijakan yang dilakukan generasi penerus atau kader pemimpin untuk mengelola Pondok Pesantren, justru terkadang sangat diperlukan. Misalnya, perubahan kebijakan dalam membangun pendidikan yang agamis dan sesuai dengan tuntutan zaman serta pola pembinaan karakter santri. Hal itu sangat diperlukan dalam rangka menanamkan nilai-nilai islami sehingga dapat membendung kerusakan akhlak serta memberikan semangat perjuangan dan pengorbanan agama.

Begitu juga pendapat Ruhlas Fatniary Rumamna, yang pernah menjadi Staf Pengasuhan Pesantren Putri Pondok Gontor, menyatakan bahwa Pesantren yang dengan sistem asrama penuh, yang dimana baik santri/santriwati ataupun ustadz/ustadzah semuanya berada di dalam asrama, sehingga kapanpun ketika seorang anak /santriwati membutuhkan bimbingan dari para ustadz/ustadzah bisa langsung bertemu dan berkonsultasi kepada beliau. dan pada ujungnya akan memperkuat penanaman jiwa Pondok dan pendidikan karakter di Pondok sehingga dapat menjadi pegangan hidup.

Sistem pendidikan di kelas dan di luar kelas berlangsung integral; guru di kelas adalah juga guru pembimbing diluar kelas, pembimbing asrama dan pembimbing seluruh kegiatan yang ada di Pondok yaitu pengasuhan santri sampai ke pimpinan Pondok yang selalu membimbing, membina, mengarahkan, sehingga pendidikan yang diberikan anak/santriwati tidak berhenti hanya di pertemuan – pertemuan di dalam kelas tetapi terus berlanjut diluar kelas dan setiap lini kehidupan santriwati begitu juga di Pondok Gontor Putra.

Bagi yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai dinamika pendidikan yang khas terdapat dalam Pondok Modern Gontor, maka buku ini bisa menjadi salah satu rujukan. Seperti bagaimana menciptakan iklim kemandirian dan kewirausahaan bagi para santri. Di dalamnya terdapat pula beberapa tulisan yang berisikan nasihat, cerita/kisah yang mengandung pendidikan karakter yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari pada santri di Pondok Modern Gontor.

 Anda juga akan dapat membaca kisah dan cerita, kenangan di Pondok Gontor, apa itu Kepemimpinan serta sejarah dan perkembangan pondok Gontor, siapa kader pondok Gontor, dan beberapa info tentang pendidikan karakter serta pendapat mereka tentang Pesantren Gontor di antaranya adalah:
Para Pendiri, Pimpinan dan Alumni: KH.Imam Zarkasyi, KH. Ahmad Sahal, KH. Zainudin Fanani, K.H Abdullah Syukri Zarkasyi, K.H. Hasan Abdullah Sahal, KH. Imam Badri, K.H. Masyhudi Subari, MA, Nur Hadi Ihsan PhD, Drs. Akrim Mariyat, Nasrullah ZM, KH. Heru Saiful Anwar, Lukman Hakim Saifuddin, Mohammad Masruh Ahmad, MA, Yoyok Suyoto Arief MA, Dr, Sofwan Manaf, Dr. M. Tata Taufik, Dr. Abu Darda’ Emha Ainun Nadjib, Prof.Dr. Syarifudin Basyar, M. Sholeh MA, Dr. Khoirurrijal MA, , Dr. Yunus Abu Bakar, Ahmad Subhan Roza, M.Pd, Azmi Sirodjudin M.H, KH Achmad Cholil Ridwan, Moh Ali Aziz, Eddy Faisal, Rento Akhiatri, DH. Ismail, KH.Hasyim Muzadi, Prof.Dr. Nurcholis Madjid, Akbar Zainudin MM, Imam Ratrioso S.Psi, Oky Siqoh Haqiqotan, Hanif Hafidz S.Ag, Muslim Rosyid al-Palembangi, Mustajab Shobari, Suwito Jemari, S.Ag, Ahmad Ghiyats Fawwaz, Akrimul Hakim, Yusra Kilun, Imam Hariyadi MSI, Budi Sukardi MSI, RA Idham S.Sos., Adi W. Gunawan, Aryamer, Masykur Hasan S.Pd.I, Rusen Sunloh, Hakimul Ikhwan PhD, Ahmad Zumaro MA, Ryan Febrianti, M. Dafik, Akbar al-Fahmy Hasbullah, Ahmad Muqorobin Brunai, Azhar Amir PO, Novan Hariansyah MA, Thony Al-Manar, dan masih banyak yang lain.

Para Tokoh dan Pakar: Prof.Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, Ir. Jokowi Widodo Prof.Dr . Achmad Sanusi, Prof.Dr . Dedi Mulyasana Dr.Hari Suderadjat Prof.Dr. Sofyan Sauri, Prof.Dr. Ahmad Tafsir, KH Said Aqil Siroj, Prof.Dr. Karwono, Prof Juhri AM, M.Pd, Prof.Dr. Enizar, Husnul Fatarib PhD, Mukhtar Hadi MSI. Prof.Dr. Aziz Fahrurrozi, Prof.Dr. Azyumardi Azra, Dr. Adian Husaini, Dr. Mahrus As’ad, Umar Samsudin M.A., , KH Salahuddin Wahid. Dr. Syafii Antonio, Dr. Ary Ginanjar Agustian, Taufiq Abdullah, KH. Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, KH.Tholhah Hasan, M. J. Langeveld, Ki Hajar Dewantara, Ratna Megawangi, Sofyan A. Djalil, M.Samson Fajar S.Sos, M.Ag, Baedhowi PMPTK, Doni Koesoema, Sapriya, Dhofier, dan lain-lain.

Penulis : Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed
Ukuran : 16 x 21 cm
Halaman : xviii + 190 hlm
Kertas : HVS 70 gram
Cetak : Colour

Ongkos kirim dan Harga : >>Info Pemesanan<<
harga Rp. 60.000,- sudah termasuk ongkos kirim, Jika pesan lebih banyak akan mendapatkan discount lebih kurang 50 % khususnya koperasi pondok yang memesan.. yang berminat silahkan kirim alamat tujuan dan transfer ke BCA an Raden Ahmad Idham no rek : 0711868240, kalau sudah segera kami kirim bukunya, bagi yang beminat hubungi penerbit Wafi Media Tama (021) 95088371 atau Ali Nurdin 081296509127 dan bisa hubungi penulis M.Ihsan Dacholfany 081213022488.

Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat Pendidikan Islam

oleh : M. Ihsan Dacholfany
A. Pendahuluan
Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya. 1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal. 2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal. 3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. 4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. 5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .
Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.
B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu: (1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar; (2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong; (3) Ada yang di didik atau si terdidik; dan (4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ).
Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
  1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
  2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
  3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya.
Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
  1. Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
  2. Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
  3. Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
  4. Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder.
Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
C. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
D. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Prof. Mohammad Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :
  1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.
  2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.
  3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya.
  4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
  5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.
E. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut :
Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.
Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena.
F. Penutup
Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam.
Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten. Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan. Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.
Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000
Titus, Smith, Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.
Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.
Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.
Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997
M. Ihsan Dacholfany adalah mahasiswa ISID 1997 – Staf Pengajar PP Gontor – Perpustakaan Darussalam)
=========

Senin, 20 Februari 2017

MERAJUT KEMBALI SIMPUL PERSAUDARAAN



KHUTBAT JUM'AT
MERAJUT KEMBALI SIMPUL PERSAUDARAAN
Oleh : M. Ihsan Dacholfany


ISBN. 978-602-150842-8



KHUTBAH PERTAMA 

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يُحِبُّ الطَّائِعِيْنَ وَيُكَافِئُ الْمُخْلِصِيْنَ وَيُضَاعِفُ أَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ. أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ اْلقَوِيُّ الْمَتِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.  أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ  :وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. 

Hadirin Jama’ah Jumat Rahimakumullah
Pada kesempatan khutbah ini, saya mengajak hadirin sekalian, terutama pada diri khatib sendiri untuk senantiasa bersama-sama meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dan terus menerus berusaha meningkatkan ketakwaan itu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta mensyukuri semua kenikmatan dan karunia yang diberikan kepada kita dengan menggunakan dan menyalurkannya pada jalan yang diridhai-Nya. Dengan demikian, semoga kita senantiasa mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amin. sebagaimana wasiat yang telah disampaikan  Allah SWT di dalam ayat di atas:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.
Artinya:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sungguh Allah amat berat siksa-Nya". (Q.S. Al-Maidah: 2)

Akhir-akhir ini kita terus dirundung duka dan dikejutkan oleh berbagai peristiwa-peristiwa antara daerah yang bernuansa kesukuan atau etnis yang kelihatan seolah-olah pertarungan harga diri yang harus dibela, diperjuangkan sampai titik darah penghabisan, sehingga banyak korban yang berjatuhan, baik materi maupun korban nyawa. Padahal, menurut Rasulallah SAW, perang suku atau mati karena membela kedaerahan bukan membela kebenaran dan keadilan, maka matinya adalah mati jahiliyyah, mati yang sia-sia.
            Yang lebih memprihatinkan lagi, jika ditelusuri, mereka yang terlibat tawuran tersebut adalah satu akidah, satu keyakinan dan satu agama, yaitu agama Islam. Seolah-olah kesamaan agama dan keyakinan tidak lagi menjadi perekat persaudaraan. Perpecahan tersebut berlaku dari tingkat masyarakat bawah sampai dengan tingkat atas, perpecahan itu dengan cara saling menjatuhkan dan saling memfitnah hingga benturan-benturan fisik, perpecahan itu hanya karena membela kepentingan yang sifatnya jangka pendek, yang semua itu didominasi oleh hawa nafsu dan kerakusan pada jabatan, kedudukan dan materi, untuk mempertahankan kedudukan dan jabatan, seseorang rela mengorbankan hubungan persaudaran yang seharusnya merupakan ciri utama dari orang-orang yang beriman.  Rasulallah Saw bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ )رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ(
Artinya:
“Tidak dikatakan beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” (H.R. Bukhari Muslim).

Haruskah perpecahan dan permusuhan ini terus menerus terjadi hanya karena perbedaan daerah dan asal keturunan? Atau hanya karena perbedaan orientasi dan arah dunia politik praktis? Atau hanya karena perbedaan metode dakwah? Atau hanya karena jabatan? Bukankah permusuhan itu sangat dibenci Allah dan disenangi setan ? Atau mungkin kita ini lebih pantas disebut hizb syaitan (tentara syaitan) daripada hizb Allah (tentara Allah)?
Ilustrasi tersebut menggambarkan betapa pentingnya menjaga kesatuan dan memupuk persatuan di antara kita, sebab perbedaan yang muncul dari keragaman di negeri ini, tidak mustahil menjadi pemicu lahirnya panatisme buta, persaingan tidak sehat, perselisihan, gontok-gontokan, perpecahan yang bisa meluluh lantahkan nilai-nilai kebersamaan, merapuhkan persatuan dan tidak mustahil membawa derita dan kehancuran bangsa kita. Na'udzubillah tsuma na'udzubillah min dzalik.
 Nabi Kita Muhammad SAW telah berusaha selama hidupnya agar selalu menjalin hubungan sesama Islam tanpa melihat latar belakang ras,  keturunan, jabatan dan kedudukan sosial. Sejarah telah membuktikan kepada kita semua, bahwa belum pernah terjadi bentuk  persatuan dan kesatuan umat yang besar melainkan Nabi Kita Muhammad SAW membina kesatuan umat dalam waktu yang relatif singkat dan mempersatukan berbagai macam faham agama yang berbeda dan  kepada umat yang beragama Islam juga. Menurut sepengetahuan saya, belum pernah terjadi dalam sejarah manapun dan peradaban kehidupan manusia waktu itu, di mana orang dari golongan bangsawan dipersatukan dan dipersaudarakan dengan golongan hamba sahaya, sehingga berani untuk berkorban nyawa, dikarenakan  perasaan kasih sayang yang teramat mendalam dalam sanubari mereka, seperti  kholifah Abu Bakar As-Siddiq r.a. dengan Bilal bin Rabah r.a., sehingga setiap sahabat dapat merasakan akan nikmat dari persatuan serta persaudaraan yang berteraskan agama Allah SWT.

Hadirin Jama’ah Jumat Rahimakumullah
             Pada dasarnya, ni’mat persaudaraan yang islami adalah anugerah Allah SWT. Tanpa pertolongan-Nya, tidak mungkin kita dapat membangun persaudaraan yang islami, sebagaiman firman-Nya dalam Al-Qur’an :

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً، وَكُنْتُمْ عَلَي شَفَاحُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا،  كَذَالِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آياَتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Artinya:
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu, ketika dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakan antara hatimu, maka menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yan bersaudara…..”  (QS. Ali Imran: 103).

Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa nikmat Allah berupa persaudaraan karena iman, hanya akan diberikan manakala kaum muslimin berpegang teguh kepada Al-Qur’an. Tanpa iman dan Islam yang benar (disertai pelaksanaan ajarannya dalam aktivitas keseharian) tidak mungkin persaudaran yang Islami terwujud secara baik dan kuat. Tanpa ketundukan hati pada Islam atau pada ajaran Allah dengan istiqomah, konsisten, dan mujahadah, tidak mungkin Allah akan menganugerahkan ni’mat persaudaraan yang Islami. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an :

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا مَّا اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Artinya:
 “Dan Allah yang mempersatukan hati mereka(orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak akan mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Anfal: 63)

            Allah menciptakan lima jari ternyata mempunyai nilai filosofi dan hikmah bagi kita, yaitu Persaudaraan dan Persatuan,  ibarat lima jari kita yang saling tolong menolong dan membutuhkan antara satu dengan yang lainnya sebagai contoh, jika  ingin mendirikan masjid atau sekolah untuk  masyarakat, dari lima jari kita terdiri atas ibu jari yang identik dengan orang pintar / cerdas yang mengetahui bagaimana sebaiknya bentuk atau arsitektur bangunan masjid atau sekolah, kemudian jari telunjuk yang identik dengan orang kaya yang memiliki harta atau uang untuk membeli bahan bangunan, kemudian jari tengah  adalah  paling tinggi dari jari-jari yang lainnya identik sebagai orang tua yang umurnya lebih panjang dari yang lainnya, yang artinya mempunyai pengalaman banyak dalam membangun, lalu jari manis yang identik dengan pemuda-pemudi sebagai kader / penerus sebagai calon pengganti generasi tua dan terakhir adalah jari kelingking yang identik dengan orang kecil/miskin/tidak memiliki apa-apa yang bisa disumbangkan  kecuali hanya mampu menyumbangkan tenaganya untuk mengangkat semen, pasir atau alat bangunan lainnya untuk membangun masjid atau sekolah. Dari sinilah dibutuhkan kerjasama antara jari-jari tersebut sehingga terjalin persaudaraan dan saling membutuhkan.
Persatuan adalah tiang penyangga daya suatu negara. Kemajuan atau kemunduran suatu negara ditentukan oleh persatuan dan kesatuan bangsanya, Bangsa yang makmur adalah bangsa yang bersatu, bangsa yang hancur adalah bangsa yang berseteru. Pantas, hujjatul Islam Imam Al-Ghazall menegaskan bersatulah seperti dua tangan ini, jangan bercerai seperti dua telinga ini. Ketika tangan kanan ke depan, tangan kiri ke belakang. Ketika tangan kiri ke depan, tangan kanan ke belakang, Akhirnya, kita jalan lenggang kangkung. Tapi, kalau dua-duanya ke depan persis vampire laksana Satria Baja Hitam.
Dari keterangan di atas kita berusaha untuk membantu orang-orang yang memerlukan bantuan dengan harta, tenaga, pikiran serta apapun yang kita bisa. Bantulah para pejuang menegakkan Islam seperti membangun masjid, mushala, sekolah, pondok pesantren, pantai asuhan dan sebagainya, Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ(


Artinya:
“Orang Muslim adalah saudara orang muslim yang lain, ia tidak boleh menzhalimi saudaranya dan tidak boleh pula membiarkannya kesulitan. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebtuhunnya. Dan barangsiapa melepaskan atas seorang muslim satu kesusahan maka Allah akan melepaskan untuknya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib dia pada hari kiamat” (HR. Bukhari Muslim(

            Sebagaimana Persaudaraan yang Islami di dalam kehidupan ini sesungguhnya merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari iman dan takwa. Takwa tidak akan sempurna tanpa persaudaraan. dan persaudaraan tidak akan bermakna tanpa dilandasi ketakwaan. Manakala persaudaraan lepas dari kendali iman dan takwa, maka yang menjadi perekatnya adalah kepentingan pribadi, kelompok, kesukuan, maupun hal-hal yang bersifat material, yang sesungguhnya sangat bersifat semu dan sementara.
Persaudaraan merupakan pondasi bagi ajaran Islam, sebab selain kita harus memilki jalinan yang baik dengan Allah sebagai pencipta, kita juga diseru agar mengikat hubungan baik terhadap sesama manusia dan mahkluk Allah yang lain. Sebaimana dalam firman Allah SWT :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْا اِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ
Artinya:
“Mereka ditimpa kehinaan walau di mana mereka berada, melainkan mereka berpegang teguh dengan agama Allah dan menjalinkan hubungan baik terhadap sesama manusia”. (Surat A-li ‘Imran : Ayat 112).
            Ta’liful qulb (ketundukan hati dan kelembutan hati) yang dapat di buktikan dalam bentuk kasih sayang kepada sesama manusia sangat tergantung pada hubungan kita sebagai umat Islam terhadap  ajaran Islam. Jika  kita berusaha semaksimal mungkin melaksanakan ajaran Islam, maka ketundukan hati dan kelembutan hati akan kita miliki.
            Ajaran silaturahmi dengan sesama kita sebagai umat Islam hendaknya  harus terus menerus dibangun dan dikembangkan dalam bentuk saling tolong-menolong dan saling mendo’akan satu dengan yang lainnya. Bahkan silaturahmi yang dianggap paling baik adalah silaturahmi dengan orang atau kelompok yang sedang bermusuhan. Nabi Muhammad SAW menyebutkan dengan kata Afdolul fadhooil maksudnya perbuatan yang paling utama di antara perbuataan yang utama, sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Thabrani dari Mu’adz bin Jabal. Alangkah idealnya jika kelompok yang sedang bermusuhan berlomba-lomba saling mendahului untuk melakukan silaturahmi dan saling mendo’akan, sambil berjanji pada diri sendiri untuk tidak mudah diadu domba dan dipanasi pada permusuhan. Dalam membangun ketundukan hati dan kelembutan hati, yang tidak kalah penting adalah kesediaan dan kesungguhan kita untuk banyak ruku’ dan sujud secara bersama-sama. Artinya kita harus menjadi pemakmur masjid atau mushola yang kini hampir terdapat di berbagai tempat dan komunitas. Kebersamaan dalam ruku’ dan sujud yang kita lakukan dalam  shalat berjama’ah akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT yang kemudian diteruskan dengan kecintaan kepada sesama. Hal itu telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam membangun persaudaraan antara sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar di kota Madinah, antara keduanya terdapat kesediaan untuk saling mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan diri sendiri, Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ)رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ(

Artinya:
 “Orang Islam adalah orang yang, orang-orang Islam lainnya merasa aman dari kejahatan lisan, dan tangannya. Orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari yang dilarang Allah menuju kepada yang diperintah oleh-Nya”. (HR. Bukhari - Muslim(.

Sikap iri  dan dengki mendorong manusia terus berusaha dengan bersunguh-sunguh untuk memusnahkan kejayaan saudaranya itu. Sifat-sifat seperti ini merupakan satu penyakit umat Islam masa kini yang semakin tidak terkendali, sehingg umat Islam kini menderita kegagalan dalam bersaing dengan bangsa lain yang beragama selain Islam. Maka tidak heran jika terdapat banyak ayat Al-Quran dan Hadis yang melarang kita bersifat demikian. Sebagai contoh, baginda Rasulullah SAW pernah bersabda yang berbunyi:

اِيَّاكُمْ والحَسَدَ فَاِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ  (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ)
Artinya:
“Jauhilah sifat hasud (dengki), sesungguhnya kedengkian itu memakan kebaikan seperti  api yang membakar kayu  bakar”. (H.R. Abu Daud).

            Iri  dan dengki yang merupakan sifat syaitan yang sering masuk ke dalam watak dan perilaku manusia yang mempropogandakan persaudaraan dan kebersamaan akan dicabut oleh Allah SWT dengan sebab seringnya bersama-sama dalam ruku’ dan sujud tersebut bersama-sama dalam melaksanakan sholat.
Kebersamaan dalam ibadah ini mudah-mudahan akan membentuk cinta kita akan kebersamaan di dalam melaksankan hubungan yang sangat kita butuhkan bersama. Seperti dalam membangun lembaga pendidikan berkualitas, lembaga ekonomi dan keuangan yang tangguh, masjid megah dengan jama’ah yang banyak dan langgeng, pertanian subur dengan hasil berlimpah ruah, desa damai dengan keamanan yang terjaga, maupun hal-hal lain yang dibutuhkan bersama. Marilah kita habiskan tenaga dan kekuatan kita untuk  membangun umat dalam berbagai bidang kehidupan untuk tetap bersatu, dan bukannya dihabiskan untuk saling memfitnah, saling menjatuhkan, saling mencelakakan, saling membunuh. Tidak ada yang diuntungkan dengan dendam dan permusuhan itu, kecuali syaitan dan golongannya. 
Alhamdulilah, kita patut bangga dan bersyukur kepada Allah SWT., karena seiring dengan semangat gotong royong seirama dengan spirit bhineka tunggal ika, perbedaan-perbedaan yang timbul dari keragaman di negara kita ini, dipandang masih dalam kerangka fastabiqul khairat. Amin ya Rabbal alamin.
Jika berbagai perbedaan dilandasi dengan iman, diorientasikan menimba amal kebajikan, dijadikan sebagai iner power bagi kita, maka hal itu akan dapat tercipta suatu perdamaian yang nyata. Kita akan memperoleh pahala dan ampunan dari Allah SWT. Sebagaimana terangkai dalam al-Qur'an surat al-Maidah ayat: 9 yang berbunyi:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۙ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
 
Artinya:
“ Allah telah berjanji kepada orang yang beriman dan beramal kebaikan, bagi mereka ampunan dan pahala berlimpahan”. (QS al-Maidah: 9)

Semoga Allah menganugerahi kita keturunan dan generasi yang shaleh dan shalehah yang bersatu padu dalam kebaikan dan kebenaran, serta menganugerahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita untuk dapat mencapai persatuan, kedamaian, dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.