Selasa, 28 Maret 2017
Buku Khutbah Kontenporer
M. Ihsan Dacholfany, (buku karya Bersama) ISBN 978-602-1508-42-8 Cetakan Pertama febuari 2014 ; Penerbit Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat(P3M) STAIN Jurai Siwo bekerja sama dengan Penerbit Kaukabau Yogyakarta
Senin, 27 Maret 2017
KOMPETENSI DAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) DAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
M.Ihsan Dacholfany M.Ed (Sekjur PAI STAI Bani Saleh 2009)
https://wijayalabs.com/2009/04/20/menjadi-guru-kreatif-melalui-karya-tulis-ilmiah/
A. PENGERTIAN KOMPETENSI DAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,
ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan
bertindak. Mc Ashan (1981:45) mengemukakan bahwa kompetensi “….is a knowledge,
skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part
of his or her being to the exent he or she can satisfactorily perform
particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors. Dalam hal ini,
kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang
dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia
dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan
sebaik-baiknya.
Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik
perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sehingga wujud hasil
belajar peserta didik yang mengacu pada pengalaman langsung. Peserta didik
perlu mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan
digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan
berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan memiliki kontribusi
terhadap kompetensi yang sedang dipelajari.
Berdasarkan pengertian diatas, Kurikulum Berbasis
Kompetensi dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada
pengembangan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dan standar performansi
tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa
penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Kurikulum berbasis
kompetensi diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan,
nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk
kemahiran, ketetapan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.
Kurikulum Berbasis Kompetensi memfokuskan pada
pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu
kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran
yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam
bentuk perilaku atau ketrampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan.
Kegiatan pembelajaran perlu diarahkan untuk membantu peserta didik menguasai
sekurang-kurangnya tingkat kompetensi minimal agar mereka dapat mencapai
tujuan-tujuan yang ditetapkan. Sesuai dengan konsep belajar tuntas dan
pengembangan bakat, setiap peserta didik harus diberi kesempatan untuk mencapai
tujuan sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing.
Kurikulum Berbasis Kompetensi menuntut guru yang
berkualitas dan professional untuk melakukan kerjanya dalam rangka meningkatkan
kualitas pendidikan. Meskipun demikian, konsep ini tentu saja tidak dapat
digunakan sebagai resep memecahkan semua masalah pendidikan. Namun, dapat
memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap perbaikan pendidikan.
Dalam hubungannya dengan pembelajaran, kompetensi
menunjuk kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi
tertentu dalam proses belajar. Kompetensi selalu dilandasi oleh rasionalitas
yang dilakukan dengan penuh kesadaran “mengapa dan bagaimana “ perbuatan
tersebut dilakukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kompetensi
merupakan indikator yang menunjuk kepada perbuatan yang bisa diamati dan
sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan, nilai dan
sikap, serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh. Kompetensi tersebut
terbentuk secara transaksional, bergantung pada kondisi-kondisi dan pihak-pihak
yang terlibat secara aktual.
B. LANDASAN TEORITIS YANG MENDASARI KBK
Ada 3 landasan yang mendasari Kurikulum Berbasis
Kompetensi, yaitu :
1. Adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok
kearah pembelajaran individual.
Dalam pembelajaran individual setiap peserta
didik dapat belajar sendiri, sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing,
serta tidak bergantung orang lain. Untuk itu diperlukan pengaturan kelas yang
fleksibel baik sarana maupun waktu, karena dimungkinkan peserta didik belajar
dengan kecepatan yang berbeda, penggunaan alat yang berbeda serta mempelajari
bahan ajar yang berbeda pula.
2. Pengembangan konsep belajar tuntas ( mastery
learning ) atau belajar sebagai penguasaan (learning of mastery ).
Suatu falsafah pembelajaran yang mengatakan bahwa
dengan sistem pembelajaran yang tepat, maka semua peserta didik dapat
mempelajari semua bahan yang diberikan dengan hasil yang baik.
3. Pendefinisian kembali terhadap bakat.
Dalam kaitan ini Hall (1986 ) menyatakan bahwa
setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal, jika
diberikan waktu yang cukup. Jika asumsi itu diterima maka perhatian harus
dicurahkan kepada waktu yang diperlukan untuk kegiatan belajar.
Implikasinya terhadap pembelajaran:
a) Pembelajaran perlu lebih menekankan pada
kegiatan individual meskipun dilaksanakan secara klasikal, dan perlu
memperhatikan perbedaan peserta didik.
b) Perlu diupayakan lingkungan belajar yang kondusif,
dengan metode dan media yang bervariasi, sehinnga memungkinkan setiap peserta
didik belajar dengan tenang dan menyenangkan.
c) Dalam pembelajaran perlu diberikan waktu yang
cukup, terutama dalam penyelesaian tugas atau praktek, agar setiap peserta didik
dapat mengerjakan tugas belajarnya dengan baik.
Ashan ( 1981 ) mengemukakan 3 hal yang perlu
diperhatikan dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu penetapan
kompetensi yang hendak dicapai, pengembangan strategi untuk mencapai kompetensi
dan evaluasi.
C KARAKTERISTIK KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Karakteristik kurikulum berbasis kompetensi
antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai, spesifikasi
indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi
dan pengembangan sistem pembelajaran. Kurikulum berbasis kompetensi juga
memiliki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, penilaian
dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi kompetensi yang
ditunjukkan oleh peserta didik. Pembelajaran telah menekankan pada kegiatan
individual personal untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan, peserta
didik dapat dinilai kompetensinya kapan saja dan bila mereka telah siap, dan
dalam pembelajaran peserta didik dapat maju sesuai dengan kecepatan dan
kemampuan masing-masing.
Depdiknas (2002 ) mengemukakan bahwa kurikulum
berbasis kompetensi memilki karakteristik sbb:
1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa
baik secara individual maupun klasikal.
2) Berorientasi pada hasil belajar ( learning
outcomes ) dan keberagaman.
3) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan
pendekatan-pendekatan metode yang bervariasi.
4) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga
sumber belajar lainnya yang memiliki unsur educatif.
5) Penilaian menekankan pada proses dan hasil
belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
A. Pendahuluan
Pemerintah telah mempercepat pencanangan Milenium
Development Goals, yang ssemula dicanangkan tahun 2020 dipercepat menjadi tahun
2015. Milenium Development Goals adalah era Pasar Bebas atau Era Globallisasi.
Sebagai era pencanangan mutu atau kualitas, siapa yang berkualitas dialah yang
akan maju dan mampu mempertahankan eksisitensinya. Oleh karena itu pembangunan
SDM yang berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar
lagi. Hal tersebut mutlak dilakukan, karena akan menjadi penopang utama
pembanguanan nasional yang mandiri dan bekeadilan, Good Governance and Clean
Govenance, serta menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia dari multidimensi
krisis, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.
Salah satu cara untuk meningkatkan SDM adalah
melalui peningkatan pendidikan. Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan
tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum meerupakan komponen pendidikan,
baik oleh pengelola maupun penyelenggara, khususnya oleh guru dan kepala
sekolah. Karena kurikulum dibuat secara sentralistik, setiap satuan pendidikan
diharuskan untuk melaksanakan dan mengimplementasikannya sesuai dengan petunjuk
pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang disusun oleh pemerintah
pusat menyertai kurikulum tersebut.
B. Apa itu KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah,
karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan
karakteristik peserta didik. Sekolah dan Komite Sekolah, atau Madrasah dan
Komite Madrasah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan silabus
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi kelulusan.
KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan agar
lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki
tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan
merupakaqn keharusan agar sistem pendidikan nasional tersebut selalu relevan
dan kompetitive. Hal tersebut juga sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas Pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan standar nasional
pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun,
dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan
mampu mengembangkannya dengan memperhatikan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 36
• Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu
pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
• Kurikulum pada semua jenjang dan jenis
pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversivikasi sesuai dengan satuan
pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
• Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dasar dan
menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar
kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang
dibuat oleh BSNP.
Dalam pengembangan KTSP, perlu juga diperhatikan
upaya-upaya memaksimalkan fungsi dan peran stratetgis guru dan dosen yang
meliputi :
Penegakan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional
Pembinaan dan pengembangan potensi guru dan dosen
Perlindungan hukum
Perlindungan profesi
Perlindungan keselamatan dan keselamatan kerja
Penegakan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional
Pembinaan dan pengembangan potensi guru dan dosen
Perlindungan hukum
Perlindungan profesi
Perlindungan keselamatan dan keselamatan kerja
C. Tujuan KTSP
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk
memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan
(ototnomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan
pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Secara
khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah sebagai berikut
Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
D. Landasan Pengembangan KTSP
KTSP dilandasi oleh UU dan peraturan pemerintah
sebagai berikut :
a. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
b. Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan
c. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar
Isi
d. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang standar
kompetensi kelulusan
e. Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang
pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23
E. Karakteristik KTSP
Karakteristik KTSP dapat diketahui antara lain
dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja,
proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga
pendidikan, serta sistem penilaian karakteristik KTSP sebagai berikut
”pemberian otonomi yang luas kepada sekolah satuan pendidikan, partisipasi
masyarakat dan orang tua yang tinggi, kepemimpinan yang demokratis dan profesional
, serta tim kerja yang kompak dan transparan.
UU SPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 19
UU SPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 19
menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Prinsip-prinsip umum kurikulum dan pengajaran adalah siswa diberi
kesempatan mempraktekkan perilaku munurut tujuan, pengalaman belajar, memberikan
kesempatan bagi siswa menghadapi isi pelajaran. Siswa memperoleh kepuasan
menerima pelajaran, level pelajaran dalam rentang yang dimungkinkan bagi siswa
untuk dilibatkan. Pengalaman belajar memberikan hasil yang nyata dan
pembelajaran siswa akan diperkuat, diperdalam dan diperluas. Dengan demikian
pada prinsipnya kurikulum di desain untuk dapat diterima siswa dengan baik,
karena jika siswa tidak mampu mengikuti kurikulum yang disampaikan maka
kurikulum tersebut tidak akseptabel.
INFORMASI SEPUTAR KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
M.Ihsan Dacholfany M.Ed (Pudek IPRIJA Fak.Tarbiyah 2004-2007)
https://wijayalabs.com/2005/04/20/menjadi-guru-kreatif-melalui-karya-tulis-ilmiah/
LANDASAN
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Standar Isi
Standar Kompetensi Lulusan
Pengertian
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Pengembangan KTSP
KTSP dikembangkan oleh :
Setiap Kelompok / Satuan Pendidikan dan
Komite Sekolah / Madrasah
Di bawah Koordinasi dan Supervisi
Dinas Pendidikan/Kantor Depag Kab/Kota untuk Pendidikan Dasar
Dinas Pendidikan/Kantor Depag Provinsi untuk Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus
Pedoman Pengembangan KTSP
Standar Isi
Standar Kompetensi Lulusan
Panduan dari BSNP
Prinsip Pengembangan KTSP
Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Beragam dan terpadu
Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Menyeluruh dan berkesinambungan
Belajar sepanjang hayat
Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
KOMPONEN KTSP
A. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan
Tingkat Satuan Pendidikan
B. Struktur dan Muatan KTSP
D. Kalender Pendidikan
E. Silabus
F. RPP
A. VISI SATUAN PENDIDIKAN
Berorientasi ke depan
Dikembangkan bersama oleh seluruh warga sekolah
Merupakan perpaduan antara langkah strategis dan sesuatu yang dicita-citakan
Dinyatakan dalam kalimat yang padat bermakna
Dapat dijabarkan ke dalam tujuan dan indikator keberhasilannya.
Berbasis nilai
Membumi (kontekstual).
BAGAIMANA MENYUSUN VISI
TAHAP 1 : HASIL BELAJAR SISWA
(apa yg hrs dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah).
TAHAP 2 : SUASANA PEMBELAJARAN
(suasana pembelajaran seperti apa yg dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu)
TAHAP 3 : SUASANA SEKOLAH
(suasana sekolah – sebagai lembaga/organisasi pembelajaran – seperti apa yg diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa)
Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Acuan Operasional Penyusunan KTSP
Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.
Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.
Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah.
Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
Tuntutan dunia kerja
Kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Agama
Kurikulum harus dikembangkan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang berlaku di lingkungan sekolah.
Dinamika perkembangan global
Kurikulum harus dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain.
Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Kurikulum harus mendorong wawasan dan sikap kebangsaan dan persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya.
Kesetaraan Jender
Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan jender.
Karakteristik satuan pendidikan
Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.
B. Struktur dan Muatan KTSP
1.Mata pelajaran.
Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan tertera pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi.
2.Muatan lokal.
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.
3.Kegiatan Pengembangan Diri
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik.
Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier.
Pengembangan diri untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dalam masyarakat.
4.Pengaturan Beban Belajar.
-Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB baik kategori standar maupun mandiri, SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar.
-Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan oleh SMP/MTs/SMPLB kategori mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar.
-Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) digunakan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri.
Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.
Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% – 40%, SMP/MTs/SMPLB 0% – 50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% – 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.
Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.
Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut.
Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka, 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.
Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka, 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.
Mata pelajaran 38-39 jam/minggu, boleh ditambah maksimal 4 jam
5.Kenaikan Kelas, Penjurusan, dan Kelulusan.
Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan mengacu kepada standar penilaian yang dikembangkan oleh BSNP.
6.Pendidikan Kecakapan Hidup.
– Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/ SMALB, SMK/SMAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional.
– Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran.
– Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.
7.Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global.
– Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
– Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran.
– Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.
C. Kalender Pendidikan
Satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.
PELAKSANAAN PENYUSUNAN KTSP
Analisis Konteks
Analisis potensi dan kekuatan/kelemahan yang ada di sekolah: peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program yang ada di sekolah
Analisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar: komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya.
Mengidentifikasi Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai acuan dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Mekanisme Penyusunan KTSP
Tim Penyusun
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan Provinsi untuk pendidikan menengah.
Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK terdiri atas guru, konselor, kepala sekolah, komite sekolah, dan nara sumber, dengan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, dan disupervisi oleh dinas kabupaten/kota dan provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan MI, MTs, MA dan MAK terdiri atas guru, konselor, kepala madrasah, komite madrasah, dan nara sumber dengan kepala madrasah sebagai ketua merangkap anggota, dan disupervisi oleh departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama.
Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan khusus (SDLB,SMPLB, dan SMALB) terdiri atas guru, konselor, kepala sekolah, komite sekolah, dan nara sumber dengan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, dan disupervisi oleh dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Kegiatan Penyusunan
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru.
Tahap kegiatan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan secara garis besar meliputi: penyiapan dan penyusunan draf, reviu dan revisi, serta finalisasi. Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan diselenggarakan oleh tim penyusun.
Pemberlakuan
Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan SD, SMP, SMA, dan SMK dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta diketahui oleh komite sekolah dan dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan MI, MTs, MA, dan MAK dinyatakan berlaku oleh kepala madrasah serta diketahui oleh komite madrasah dan oleh departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama.
Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan SDLB, SMPLB, dan SMALB dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta diketahui oleh komite sekolah dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Pengembangan KTSP
Kurikulum tingkat satuan pendidikan sebagai perwujudan dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah, berpedoman pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP.
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .
(Lihat UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat 2).
kurikulum merupakan semua pengalaman yang direncanakan yang dilakukan oleh sekolah untuk menolong para siswa dalam mencapai hasil belajar kepada kemampuan siswa yang paling baik.
Sehingga dalam penyusunan kurikulum diperlukan komponen-komponennya, yaitu:
TUJUANA KURIKULUM
Tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama.Seperti yang disampaikan oleh Hummel (Uyoh Sadulloh, 1994) bahwa tujuan pendidikan secara universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu:
< Autonomy; gives individuals and groups the maximum awarenes, knowledge, and ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible extent.
didukung oleh para pendukung filsafat klasik yang berpusat pada guru sebagai tokoh sentral dalam pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan
Ceramah, seminar
ORGANISASI KURIKULUM
Terdapat 6 ragam pengorganisasian kurikulum yaitu:
isolated subject (mata pelajaran terpisah)
kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama
Mata pelajaran berkorelasi
korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
Bidang study( broad field)
yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
Program terpusat pada anak (child center)
yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
Inti masalah(core program)
yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.
Ecletic program, dipecah lagi menjadi:
suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik. Kurikulum KTSP cenderung menggunakan ini dengan mata pelajaran berikut:
Kelompok mata pelajaran agama dan akhlaq mulia
Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
Kelompok mata pelajaran estetika
Mata pelajaran jasmani , olahraga, dan kesehatan
Evaluasi
untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan.
Menurut Wright “ curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of student toward objective or value of the curriculum”
Hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum (Hilda Taba) “objective,it’s scope, the quality of personnels in charger of it ,the capacity of student, the relative importance of various subject , the degree to which objectives are implemented ,the equipment and materials and so on”
Komponen tersebut harus ada dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum karena kurikulum sendiri bersifat mendasar dan untuk jangka waktu yang sangat lama.
Minggu, 05 Maret 2017
PERBEDAAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
PENJELASAN TENTANG PERBEDAAN KUALITATIF
DAN KUANTITATIF
M. Ihsan
Dacholfany
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Setiap orang pasti menginginkan
hasil penelitian/pekerjaannya sesuai dengan harapannya. Maka dari itu
dibutuhkan sebuah metode penelitian untuk memproses dan menjalankannya. Metode
adalah sebuah cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar
tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Sedangkan penelitian adalah: usaha
untuk mengungkap dan menyingkap sebuah permasalahan sampai ke akar-akarnya.
Maka dengan pengertian ini dapat kita simpulkan bahwa metode penelitian adalah:
sebuah cara untuk mengungkap dan menyingkap permasalahan secara sistematis dan
teratur sehingga akan tercapainya hasil yang dikehendaki.
Penelitian ilmiah secara umum
mengenal dua jenis penelitian, yaitu penelitian dengan pendekatan kuantitatif
atau penelitian kuantitatif dan penelitian dengan pendekatan kualitatif atau
penelitian kualitatif.
Di makalah ini penulis mencoba menjelaskan tentang seputar pengertian
penelitian kualitatif dan kuantitatif serta langkah-langkah yang harus
ditempuh.
- Rumusan Masalah
1.
Pengertian Kualitatif dan Kuantitatif?
2.
Apa perbedaan Kualitatif dan Kuantitatif?
3. Apa saja kelebihan dan kelemahannya?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui Pengertian Kualitatif dan
Kuantitatif?
2.
Untuk mengetahui apa perbedaan Kualitatif dan
Kuantitatif?
3.
Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan?
BAB II
PEMBAHASAN
- Kualitatif
1.
Pengertian
Kualitatif
Kualitatif merupakan sebuah
penelitian yang menekankan analisis proses dari proses berfikir secara
induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antar fenomena yang
diamati, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah. Penelitian kualitatif tidak
berarti tanpa menggunakan dukungan dari data kuantitatif, tetapi lebih
ditekankan pada kedalaman berfikir formal dari peneliti dalam menjawab
permasalahan yang dihadapi.
Penelitian kualitatif bertujuan mengembangkan konsep sensitivitas pada masalah
yang dihadapi, menerangkan realitas yang berkaitan dengan penelusuran teori
dari bawah dan menerangkan pemahaman akan satu atau lebih dari fenomena yang
dihadapi. Penelitian kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang
digunakan dalam mengungkap permasalahan dalam kehidupan kerja organisasi
pemerintah, swasta, kemasyarakatan, kepemudaan, perempuan, olahraga, seni dan
budaya, sehingga dapat dijadikan suatu kebijakan untuk dilaksanakan demi
kesejahteraan bersama.
Menurut sugiyono (2005) masalah dalam penelitian kualitatif bersifat sementara,
tentative, dan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan. Dalam
penelitian kualitatif akan terjadi tiga kemungkinan terhadap masalah yang akan
diteliti oleh peneliti, yaitu:
1. masalah yang
dibawa oleh peneliti tetap, sejak awal sampai akhir penelitian sama, sehingga
judul proposal dengan judul laporan peneliti sama
2. masalah yang
dibawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang, yaitu
diperluas/diperdalam masalah yang telah disiapkan dan tidak terlalu banyak
perubahan sehingga judul penelitian cukup disempurnakan
3. masalah yang
dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total sehingga harus
mengganti masalah, sebab judul proposal dengan judul penelitian tidak sama dan
sehingga judulnya diganti.
Menurut Flick (2002) adalah keterkaitan spesifik pada studi hubungan social
yang berhubungan dengan fakta dari pluralisasi dunia kehidupan. Metode ini
diterapkan untuk melihat dan memahami subjek dan objek penelitian yang meliputi
orang, lembaga berdasarkan fakta yang tampil secara apa adanya. Melalui
pendekatan ini akan terungkap gambaran mengenai aktualisasi, realitas social,
dan persepsi sasaran penelitian. Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk
memahami perilaku manusia, dari kerangka acuan pelaku sendiri, yakni bagaimana
pelaku memandang dan menafsirkan kegiatan dari segi pendiriannya.
Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor (1990) adalah prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata. Kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan berperilaku yang dapat diamati yang diarahkan pada latar dan
individu secara holistic (utuh). Untuk itu, tidak diperbolehkan mengisolasikan
individu atau organisasi ke dalam variable atau hipotesis, tetapi memandang
sebagai bagian dari sesuatu keutuhan.
Imam Gunawan menyimpulkan di dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif
Teori dan Praktik, bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah-masalah
manusia dan social, bukan mendeksripsikan bagian permukaan dari suatu realitas
sebagaimana dilakukan penelitian kuantitatif dengan positivismenya. Penelitian
menginterpretasikan bagaimana subjek memperoleh makna dari lingkungan
sekeliling, dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi perilaku mereka.
Penelitian dilakukan dalam latar yang alami bukan hasil perlakuan atau manipulasi
variable yang dilibatkan.
2.
Prosedur dan
Proses Penelitian Kualitatif
Prosedur penelitian kualitatif memiliki perbedaan dengan penelitian
kuantitatif. Penelitian kualitatif didesain secara longgar, tidak ketat
sehingga dalam pelaksanaan penelitian berpeluang mengalami perubahan dari apa
yang telah direncanakan. Hal ini dapat terjadi bila perencanaan ternyata tidak
sesuai dengan apa yang dijumpai di lapangan. Meskipun demikian, kerja
penelitian mestilah merancang langkah-langkah kegiatan penelitian.
Imam Gunawan
mengatakan di dalam bukunya “Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik”:
menurut sugiono (2007) terdapat tiga tahap utama dalam penelitian kualitatif
yaitu:
a.
Tahap deskripsi atau tahap orientasi ditahap
ini peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan,
kemudian peneliti baru mendata sepintas tentang informasi yang diperolehnya.
b.
Tahap reduksi ditahap ini peneliti mereduksi
segala informasi yang diperoleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada
masalah tertentu; dan
c.
Tahap seleksi pada tahap ini peneliti mengurai
focus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci kemudian melakukan analisis
secara mendalam tentang focus masalah. Hasilnya adalah tema yang dikonstruksi
berdasarkan data yang diperoleh menjadi suatu pengetahuan, hipotesis, bahkan
teori terbaru.
Secara
spesifik, ketiga tahap di atas dapat dijabarkan dalam tujuh langkah penelitian
kualitatif, yaitu:
1.
Identifikasi masalah
2.
Pembatasan Masalah
3.
Penetapan fokus masalah
4.
Pelaksanaan
penelitian
5.
Pengolahan dan pemaknaan data
6.
Pemunculan teori
7.
Pelaporan hasil penelitian (Sujana, 2001).
B.
Kuantitatif
1.
Pengertian
Kuantitatif
Metode
penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang
spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak
awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan
penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka,
mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan
lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya.
Menurut Sugiyono, metode penelitian
kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu.
Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan
data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan. Metode kuantitatif sering juga disebut metode tradisional,
positivistik, ilmiah/scientific dan metode discovery. Metode kuantitatif
dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga
sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai
metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini
disebut sebagai metode ilmiah (scientific) karena metode ini telah memenuhi
kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, empiris, obyektif, terukur, rasional dan
sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery karena dengan metode ini
dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut metode
kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan
statistik.
Penelitian
kuantitatif merupakan studi yang diposisikan sebagai bebas nilai (value free).Dengan
kata lain, penelitian kuantitatif sangat ketat menerapkan prinsip-prinsip
objektivitas. Objektivitas itu diperoleh antara lain melalui penggunaan
instrumen yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Peneliti yang
melakukan studi kuantitatif mereduksi sedemikian rupa hal-hal yang dapat
membuat bias, misalnya akibat masuknya persepsi dan nilai-nilai pribadi. Jika
dalam penelaahan muncul adanya bias itu maka penelitian kuantitatif akan jauh
dari kaidah-kaidah teknik ilmiah yang sesungguhnya.
Selain itu
metode penelitian kuantitatif dikatakan sebagai metode yang lebih menekankan
pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena sosial. Untuk dapat
melakukan pengukuran, setiap fenomena sosial di jabarkan kedalam beberapa
komponen masalah, variable dan indikator. Setiap variable yang di tentukan di
ukur dengan memberikan simbol-simbol angka yang berbeda–beda sesuai dengan
kategori informasi yang berkaitan dengan variable tersebut. Dengan menggunakan
simbol–simbol angka tersebut, teknik perhitungan secara kuantitatif matematik
dapat di lakukan sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang belaku umum
di dalam suatu parameter. Tujuan utama dati metodologi ini ialah menjelaskan
suatu masalah tetapi menghasilkan generalisasi. Generalisasi ialah suatu
kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas tentang suatu masalah
yang di perkirakan akan berlaku pada suatu populasi tertentu. Generalisasi
dapat dihasilkan melalui suatu metode perkiraan atau metode estimasi yang umum
berlaku didalam statistika induktif. Metode estimasi itu sendiri dilakukan
berdasarkan pengukuran terhadap keadaan nyata yang lebih terbatas lingkupnya
yang juga sering disebut “sample” dalam penelitian kuantitatif. Jadi,
yang diukur dalam penelitian sebenarnya ialah bagian kecil dari populasi atau
sering disebut “data”. Data ialah contoh nyata dari kenyataan yang dapat
diprediksikan ke tingkat realitas dengan menggunakan metodologi kuantitatif
tertentu. Penelitian kuantitatif mengadakan eksplorasi lebih lanjut serta
menemukan fakta dan menguji teori-teori yang timbul.
2.
Prosedur dan
Proses Penelitian Kualitatif
Masing-masing peneliti mendefinisikan proses penelitian kuantitatif melalui
aktifitas yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Proses penelitian yang
dimaksud adalah kerangka kerja peneliti yang dimulai dari masalah sampai
laporan penelitian. Walaupun pada dasarnya ada perbedaan yang tidak prinsip,
maka substansi proses penelitian kuantitatif terdiri dari aktivitas yang
berurutan sebagai berikut:
A.
Mengeksplorasi,
perumusan, dan penentuan masalah yang akan diteliti.
B.
Mendesain
model penelitian dan parameter penelitian.
C.
Mendesain
instrument pengumpulan data penelitian.
D.
Melakukan
pengumpulan data penelitian.
E.
Mengolah dan
menganalisis data hasil penelitian.
F.
Mendesain
laporan hasil penelitian
Penelitian kuantitatif dimulai dengan kegiatan menjajaki permasalahan yang
akan menjadi pusat perhatian peneliti. Kemudian peneliti mendefinisi serta
memformulasikan masalah penelitian dengan jelas dan sehingga mudah dimengerti.
Setelah masalah penelitian diformulasikan, maka didesain rancangan penelitian yaitu
desain model penelitian. Desain inilah yang nantinya menuntun pelaksanaan
penelitian secara keseluruhan mulai dari awal sampai akhir penelitian.
Agar peneliti dapat melakukan pengumpulan data penelitian yang sesuai
dengan tujuan penelitian, maka perlu didesain instrument pengumpulan penelitian
yang sesungguhnya merupakan seperangkat alat perekam data penelitian di
lapangan. Alat ini digunakan oleh peneliti untuk menghimpun data di lapangan
sesuai dengan bentuk instrument itu. Hasil-hasil penelitian yang telah dihimpun
kemudian dianalisis menggunakan alat analisis statistik untuk menemukan
kesimpulan-kesimpulan, beberapa di antaranya adalah kesimpulanmelalui pengujian
hipotesis Ho. Pada akhirnya, untuk dapat dimengerti, diketahui, dibaca orang
lain, maka hasil penelitian tersebut didesain dalam model sistematika tertentu
yang disebut dengan laporan penelitian.
C.
Perbedaan
Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Di sini penulis akan menjelaskan
perbedaan antara keduanya dengan menggunakan tabel, agar lebih mudah untuk
difahami.
NO
|
PENELITIAN KUALITATIF
|
PENELITIAN KUANTITATIF
|
1
|
Mengonstruksi realitas social,
makna budaya
|
Mengukur fakta yang objektif
|
2
|
Berfokus pada proses interpretasi
dan peristiwa peristiwa
|
Terfokus pada variable-variabel
|
3
|
Keaslian merupakan kunci
|
Reliabilitas merupakan kunci
|
4
|
Nilai hadir dan nyata/tidak bebas nilai
|
Bersifat bebas nilai
|
5
|
Terikat pada situasi/terikat pada konsteks
|
Tidak tergantung pada konteks
|
6
|
Terdiri atas beberapa kasus atau subjek
|
Terdiri atas kasus atau subjek yang banyak
|
7
|
Bersifat analisis tematik
|
Menggunakan analisis statistic
|
8
|
Peneliti memihak
|
Peneliti tidak memihak
|
D. Kelebihan dan kelemahannya
Menurut Pramono Wahyu (1998:19) dalam artikelnya yang berjudul kekuatan dan kelemahan penelitian kualitatif menyebutkan:
No.
|
Kekuatan/Kelebihan
|
Kelemahan
|
1
|
Meneliti
manusia dalam latar sewajarnya
|
Problem
reliabilitas karena subjektifitas yang ekstrim
|
2
|
Penekanan
pada interpretasi dan mencari makna
|
Resiko
pengumpulan data yang tidak bermakna dan berguna
|
3
|
Mendapatkan
pemahaman mendalam tentang dunia responden
|
Memerlukan
waktu yang lama
|
4
|
Proses
penelitian manusiawi karena peran peneliti yang menonjol
|
Problem
representatif
|
5
|
Tingkat
fleksibilitas yang tinggi
|
Problem
objektifitas
|
6
|
Menggambarkan
pandangan dunia yang lebih realistik
|
Problem
etik
|
Sedangkan
menurut Purwanto (2010:27) menyebutkan kelemahan dan kelebihan penelitian
kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut:
1. Kelebihan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
a. Kelebihan Penelitian Kuantitatif
·
Menghasilkan
teori yang kuat yang probabilitas kebenaran dan toleransi kesalahannya dapat
diperhitungkan.
·
Kebenaran
teori yang dihasilkan selalu terbuka untuk diuji kembali.
·
Analisa yang
dilakukan atas angka menghindarkan unsur subjekivitas.
b. Kelebihan Penelitian Kualitatif
·
Kemampuannya
memahami makna di balik prilaku.
·
Mampu
menemukan teori baru untuk setting kebudayaan yang diteliti.
2. Kekurangan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
a. Kekurangan Penelitian Kuantitatif
- Tidak dapat mengungkap makna yang tersembunyi.
- Pengembangan teori lambat.
- Kegunaannyan rendah karena pengambil kebijakan berada di luar penelitian.
b. Kekurangan Penelitian Kualitatif
- Hasil penelitian bersifat subjektif.
- Temuan teori hanya berlaku untuk setting kebudayaan yang terbatas.
- Kegunaan teori yang dihasilkan rendah karena belum tentu dapat dimanfaatkan.
E. Contoh Judul Penelitian Kuantitatif
dan Kualitatif
1. Hubungan antara gaya belajar dan minat
baca terhadap hasil belajar
2. Analisis peran kepala sekolah dalam
menerapkan manajmen mutu peendidikan
BAB III
KESIMPULAN
1.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan
untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah-masalah manusia dan
social, bukan mendeksripsikan bagian permukaan dari suatu realitalitas
sebagaimana dilakukan penelitian kuantitatif dengan positivismenya
Penelitian
kuantitatif adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak
awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan
penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka,
mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan dari hasilnya.
2.
Langkah-langkah penelitian kualitatif dan kuantitatif
yaitu:
A.
Kualitatif
1)
Tahap deskripsi.
2)
Tahap reduksi.
3)
Tahap seleksi.
B.
Kuantitatif
1)
Mengeksplorasi,
perumusan, dan penentuan masalah yang akan diteliti.
2)
Mendesain
model penelitian dan parameter penelitian.
3)
Mendesain
instrument pengumpulan data penelitian.
4)
Melakukan
pengumpulan data penelitian.
5)
Mengolah dan
menganalisis data hasil penelitian.
6) Mendesain
laporan hasil penelitian
3.
Adapun
perbedaan bisa dilihat di table di atas.
DAFTAR
PUSTAKA
Gunawan, Imam, Metode Penelitian Kualitatif teori
dan praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013)
Bungin, M. Burhan, Metodologi Penelitian
Kuantitatif, (Jakarta: Kencana, 2005)
Imam
Gunawan, metode Penelitian Kualitatif teori dan praktik, (Jakarta: Bumi
Aksara,2013), 80
M. Burhan
Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Kencana, 2005),
Syaodih Sukmadinata Nana. 2012. Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta,cv.
Utsman Rochman. 2015. Panduan Statistika
Pendidikan. Jogjakarta: DIVA Press.
Purwanto.(2010). Metodologi Penelitian
Kuantitatif untuk psikologi dan pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Riski Taufik Maulana. (online). 2015.
website manajemen. Url: (http://rtmikki.blogspot.co.id/2015/02/pengertian-dan-contoh-data.html) Diakses pada tanggal
11-09-2015.
Herrhyanto, Nar dan H.M. Akib Hamid. 2007.
Statistika Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka
Ps Djarwanto dan Pangestu Subagyo, 1985,
Statistik Induktif, edisi ketiga, Yogyakarta, BPFE.
Supardi. 2013. Aplikasi Statistika dalam
Penelitian Konsep Statistika yang Lebih Komprehensif. Jakarta: Change
Publication.
Langganan:
Postingan (Atom)